Tanggal 1 Februari, kami menjalani city tour sekaligus mengambil miqot di Masjid Jironah untuk umroh kedua. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya salah satu titik pemberhentian sebelum kembali ke Masjidil Haram. Namun bagi saya, Jironah menjadi tempat yang berbeda. Di sinilah hati saya disentuh oleh sebuah kisah cinta yang begitu dalam, cinta antara Rasulullah SAW dan kaum Anshar.
Begitu kaki melangkah memasuki area masjid, ada getaran yang sulit dijelaskan. Nama Jironah terasa sangat akrab di telinga saya, seolah peristiwa itu hadir dihadapan saya. Tanpa disadari, air mata mengalir. Ini adalah masjid kedua setelah Masjidil Haram yang membuat saya menangis. Bukan karena keindahan bangunan atau ramainya jamaah, tetapi karena sejarah cinta dan keikhlasan yang pernah terukir di tempat ini.
Jironah dan Ujian Hati Kaum Anshar
Masjid Jironah bukan sekadar tempat miqot. Di wilayah inilah, setelah Perang Hunain, Rasulullah SAW membagikan harta rampasan perang. Beliau memberi dalam jumlah besar kepada orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam. Mereka masih rapuh, masih membutuhkan penguatan iman.
Namun, di balik kebijakan penuh hikmah itu, tersimpan ujian besar bagi kaum Anshar. Mereka adalah orang-orang yang sejak awal membela Rasulullah SAW, membuka pintu rumah mereka di Madinah, dan mempertaruhkan harta serta nyawa demi Islam. Ketika mereka melihat Rasulullah lebih banyak memberi kepada kaum Makkah, sebagian dari mereka merasakan cemburu yang lahir dari cinta. Bukan karena harta, tetapi karena takut kehilangan Rasulullah.
Perasaan itu sampai kepada Sa’ad bin Ubadah, pemimpin kaum Anshar. Dengan penuh tanggung jawab, ia mengumpulkan mereka agar Rasulullah SAW dapat berbicara langsung kepada mereka. Tidak ada amarah, tidak ada tuntutan, hanya hati yang ingin dipeluk.
Rasulullah SAW kemudian menyampaikan kata-kata yang menggetarkan:
“Wahai kaum Anshar, apakah kalian tidak ridha jika orang-orang pulang membawa harta, sementara kalian pulang membawa Rasulullah?”
Kalimat itu menghancurkan semua kegundahan. Tangisan pecah. Mereka menangis bukan karena sedih, tetapi karena bahagia—karena menyadari bahwa cinta Rasulullah adalah bagian terbaik yang bisa mereka miliki. Mereka menjawab dengan penuh haru:
“Kami ridha Rasulullah sebagai bagian kami.”
Berdiri di Masjid Jironah hari ini, saya merasa seolah berada di tengah peristiwa itu. Saya bukan Anshar, tidak hidup di zaman Rasulullah SAW, tetapi rindu yang saya rasakan terasa nyata. Jironah mengajarkan bahwa ikhlas bukanlah kehilangan, melainkan menemukan makna sejati dari cinta kepada Rasul.
Di dunia yang sering mengukur keberhasilan dengan materi dan pujian, kisah Anshar mengingatkan kita bahwa yang paling berharga bukan apa yang kita genggam, tetapi siapa yang kita pilih untuk kita cintai dan ikuti.
Ya Allah, jangan Engkau jauhkan kami dari Rasul-Mu. Kumpulkan kami bersama orang-orang Anshar, yang mendapatkan cinta Rasulullah.
Makkah, 1 Februari 2026

0 Komentar