Ada rindu yang tak pernah bisa kita jelaskan. Ia bersembunyi di balik doa-doa yang lirih, di sela-sela sujud yang panjang, di antara air mata yang jatuh tanpa alasan yang bisa dirumuskan. Kita menyebutnya iman, tapi sejatinya ia adalah kerinduan yang belum pernah bertemu.
Sering kita mendengar kutipan sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian, sebagaimana kalian melihat bulan purnama. Kalian tidak akan berdesak-desakan ketika melihat-Nya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Kalimat itu kita imani. Kita hafalkan. Namun, kita belum benar-benar memahaminya. Sampai suatu hari Allah mengundang kaki ini menjejak tanah suci, dan mata ini bertemu dengan Ka’bah.
Di detik pertama pandangan itu jatuh, jiwa runtuh dalam keagungan-Nya. Bukan runtuh karena lemah, melainkan karena akhirnya tahu: inilah rasa “melihat” yang selama ini hanya dibayangkan.
Air mata mengalir tanpa perintah. Dada bergetar tanpa sebab. Bibir gemetar tanpa kata. Dan di sanalah hati berbisik: “Jika melihat rumah-Nya saja membuatku hancur dalam haru, bagaimana kelak saat aku benar-benar melihat Dia?”
Ka’bah bukan sekadar bangunan, ia adalah bayangan rindu yang dipinjamkan Allah agar kita bisa mencicipi rasa bahagia yang kelak sempurna di surga.
Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika penghuni surga telah masuk ke dalam kenikmatan yang tak terbayangkan, Allah akan bertanya:
“Apakah kalian menginginkan sesuatu sebagai tambahan?” Mereka menjawab, “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami dan memasukkan kami ke surga?” Lalu Allah membuka hijab-Nya, dan tidak ada kenikmatan yang lebih dicintai penghuni surga selain melihat wajah Allah.
(HR. Muslim)
Maka kita pun mengerti: Surga bukanlah puncak. Nikmat bukanlah akhir. Melihat Allah-lah tujuan segala rindu.
Al-Qur’an mengabarkannya dengan bahasa langit:
"Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat.”
(QS. Al-Qiyamah: 22–23)
Di hadapan Ka’bah, kita baru tahu bahwa iman bukan sekadar percaya— ia adalah kerinduan yang menunggu pertemuan.
Tangisan itu bukan sedih. Getaran itu bukan takut. Ia adalah bahagia yang belum sempurna, rasa yang hanya memberi isyarat tentang kebahagiaan yang lebih besar kelak.
Dan mungkin, sejak hari itu, setiap sujud kita tak lagi sama. Karena kini kita tahu, kita sedang berjalan menuju pertemuan paling agung dalam semesta.
Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawa kami
sebelum Engkau perkenankan kami menjadi bagian dari wajah-wajah yang berseri-seri, yang suatu hari akan memandang-Mu dalam bahagia yang tak pernah berakhir.
Aamiin.
Makkah, 31 Januari 2026

0 Komentar