Saya bukan orang yang nyaman berada di keramaian. Sebagai seorang yang cenderung introvert, berada di tengah lautan manusia sering kali terasa melelahkan, sesak, dan menguras energi. Namun Allah mengundang Saya berada di tempat paling ramai di muka bumi: Masjidil Haram. Hari pertama di sana menjadi ujian tersendiri. Untuk bisa sholat fardhu di pelataran Ka’bah, Saya harus sudah berada di masjid satu jam sebelum adzan. Jika terlambat sedikit saja, semua pintu terasa tertutup oleh lautan jamaah. Tubuh sudah lelah, tetapi perjuangan baru saja dimulai.
Karena miqot sudah kami ambil di pesawat, hari itu juga Saya langsung melaksanakan umroh. Tawaf, sa’i, dan tahallul Saya jalani dalam kondisi yang sangat letih. Kaki terasa berat, napas tersengal, dan badan seperti diperas habis. Saya berpikir, mungkin setelah tidur semalam, besok akan terasa lebih ringan. Tetapi ternyata tidak. Hari kedua, setelah sholat Subuh, tubuh Saya benar-benar tumbang. Leher terasa radang, badan remuk, kepala berat. Saya tidak sanggup mengikuti tawaf sunnah bersama rombongan. Saya memilih tinggal di hotel, beristirahat, berharap rasa sakit itu mereda.
Pagi itu Saya tertidur lagi setelah sarapan. Dari jam delapan sampai menjelang Dzuhur, Saya benar-benar terlelap. Saat terbangun, telepon dari istri berdering berkali-kali. Ia sudah berada di Masjidil Haram sejak tawaf sunnah dan mengajak Saya bersiap untuk sholat Dzuhur berjamaah. Dalam hati, ada rasa malas dan keinginan untuk tetap berbaring. Tubuh Saya masih terasa berat, seakan belum siap untuk kembali berjuang.
Namun tiba-tiba hati Saya tersentak. Tidak semua orang Allah beri kesempatan menginjakkan kaki di Makkah. Tidak semua orang dipilih untuk bersujud di Masjidil Haram. Dan lebih dari itu, Rasulullah SAW bersabda bahwa satu sholat di Masjidil Haram bernilai seratus ribu kali lipat dibandingkan sholat di masjid lain. Kalimat itu bergaung di dalam dada Saya. Seratus ribu kali lipat. Saya merasa sangat kecil jika harus kalah oleh rasa lelah, sementara Allah sedang membuka pintu pahala sebesar ini di hadapan Saya.
Dengan sisa tenaga, Saya bangkit. Saya ambil kain ihram, menahan rasa berat di tubuh, lalu melangkah menuju Masjid yang berjarak sekitar 700 meter dari hotel. Dalam setiap langkah, Saya berdoa, “Ya Allah, kuatkan badanku. Sehatkan aku. Berikan aku kenikmatan untuk beribadah di rumah-Mu.” Sampai di Masjid, Saya minum air zamzam dan mengulang doa yang sama. Hati Saya pasrah, menyerahkan semuanya kepada Allah.
Alhamdulillah, Allah benar-benar mengganti kelemahan Saya dengan kekuatan. Perlahan, tubuh Saya terasa lebih ringan, hati Saya lebih lapang, dan semangat ibadah kembali menyala. Sejak hari itu hingga hari-hari terakhir di Makkah, hampir seluruh waktu Saya habiskan di Masjidil Haram. Saya sholat fardhu, sholat sunnah, i’tikaf, membaca Al-Qur’an, dan menikmati setiap detik berada di hadapan Ka’bah. Saya kembali ke hotel hanya untuk makan dan tidur, lalu bangun lagi sekitar jam tiga atau tiga lewat untuk kembali ke Masjid.
Di sana Saya belajar, ketika Saya melangkah kepada Allah dengan sisa tenaga yang ada, Allah akan menggantinya dengan kekuatan yang tidak pernah Saya bayangkan. Lelah bisa dikalahkan jika hati memilih untuk taat. Dan setiap sujud di Masjidil Haram bukan hanya tentang pahala yang dilipatgandakan, tetapi juga tentang hati yang dihidupkan kembali. Saya datang dengan tubuh yang lemah, namun pulang dengan jiwa yang lebih kuat dan penuh syukur, karena Saya tahu, kesempatan ini adalah panggilan langsung dari Allah yang tidak boleh disia-siakan.
Kereta Cepat Makkah-Madinah, 3 Februari 2026

0 Komentar