Gara-gara Do'a



Akhir tahun ini, saya kembali pulang ke Lampung. Seperti biasa, momen ini selalu saya manfaatkan untuk menengok kedua orang tua bersama keluarga. Pulang bukan sekadar melepas rindu, tapi juga mengisi ulang energi, menyadari kembali dari mana semua perjuangan ini bermula.

Hampir dua minggu berada di Lampung, saya menyisihkan tiga hari khusus untuk bertemu relasi dan klien. Bukan sekadar silaturahmi, tapi juga menjaga hubungan baik yang sudah terbangun. Salah satu yang ingin saya temui adalah Pak Anam, seorang kontraktor elektrikal yang pernah melakukan pemesanan kabel kepada kami untuk proyek listrik gratis bagi masyarakat kurang mampu di beberapa wilayah Lampung.

Pak Anam adalah klien yang dikenalkan oleh Sales Manager kami, Pak Yusup. Setelah berkoordinasi dengannya, saya sengaja menyempatkan diri bertemu langsung. Selain ingin menjalin hubungan yang lebih hangat, saya juga ingin menggali peluang kerja sama ke depan. Siapa tahu, ada potensi proyek yang lebih besar untuk pengadaan kabel di Lampung.

Pertemuan itu berlangsung sederhana, tapi hangat.

“Mas, dari Pringsewu ya?” tanya Pak Anam membuka obrolan.

Saya tersenyum. “Bukan, Pak. Saya dari Sidomulyo, Kalianda. Lampung Selatan.”

“Oh… yang kemarin bilang dari Pringsewu itu siapa ya?” lanjutnya.

“Mungkin Pak Yusup, Pak.”

Pak Anam tertawa kecil. “Oh iya… saya baru kenal beliau juga. Baru WA-an, ketemu belum.”

Obrolan mengalir ringan, sampai akhirnya Pak Anam bercerita sesuatu yang membuat saya terdiam sejenak.

“Entah kenapa ya, Mas… Pak Yusup itu sering WA saya tiap Jumat. Isinya doa-doa. Ya saya aminin aja. Lama-lama kok keinget terus orangnya.”

Saya tersenyum. “MasyaAllah…”

“Dan pas kemarin dapat proyek, pas lagi butuh kabel, yang kepikiran malah dia. Padahal sebelumnya saya biasa belanja ke suplier lain. Dari sana malah sering dapat bingkisan,” katanya sambil tersenyum kecil, “tapi nggak pernah disapa. Jadi ya… nggak nempel di hati.”

Saya terdiam. Bukan karena kata-katanya, tapi karena maknanya.

Ternyata bukan soal siapa yang paling sering datang, bukan pula siapa yang paling besar memberikan hadiah. Tapi siapa yang tulus mendoakan dan hadir dengan hati. Doa sederhana, yang mungkin dianggap sepele, justru menjadi pengikat rasa dan kepercayaan.

Di situlah saya kembali diingatkan: rezeki itu bukan hanya soal strategi, harga, atau produk. Tapi tentang hubungan, ketulusan, dan doa yang diam-diam bekerja.

Kadang kita terlalu sibuk mengejar hasil, sampai lupa menanam kebaikan kecil. Padahal, bisa jadi… satu doa tuluslah yang membuat nama kita diingat ketika kesempatan datang.

Dan hari itu saya semakin yakin, bahwa bisnis yang dibangun dengan hati, akan selalu menemukan jalannya sendiri.

Gara-gara doa.

Posting Komentar

0 Komentar