Bayangkan sejenak kita hidup empat belas abad yang lalu.
Fajar bahkan belum benar-benar menyingsing. Udara gurun masih dingin menusuk kulit. Langit dipenuhi jutaan bintang. Di sebuah rumah yang sederhana di Madinah, Rasulullah SAW telah bangun jauh sebelum matahari muncul. Tidak ada kasur empuk. Tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada secangkir kopi hangat untuk mengusir kantuk.
Beliau berdiri lama dalam shalat malam. Kaki yang pada siang harinya akan berjalan berkilometer-kilometer kini kembali tegak menghadap Rabb-nya. Sujud demi sujud dilakukan dengan penuh kekhusyukan. Setelah itu, beliau membangunkan keluarganya, berdzikir, lalu bersiap menyambut hari yang penuh perjuangan.
Ketika cahaya matahari mulai menyinari Madinah, tugas baru dimulai.
Hari itu bukan hari libur.
Bukan pula hari yang diisi dengan duduk berjam-jam.
Rasulullah SAW berjalan dari rumah ke masjid, menemui para sahabat, mengajarkan Al-Qur’an, memimpin urusan umat, menerima tamu dari berbagai kabilah, menyelesaikan perselisihan, mengunjungi orang sakit, menghibur anak-anak, memimpin pasukan ketika diperlukan, bahkan ikut mengangkat batu dan menggali tanah ketika membangun atau mempertahankan kota.
Bayangkan para sahabatnya.
Abu Bakar Ash-Shiddiq berdagang.
Umar bin Khattab memikul gandum di pundaknya untuk rakyat yang kelaparan.
Utsman bin Affan mengembangkan perniagaan yang hasilnya diinfakkan untuk umat.
Ali bin Abi Thalib bekerja keras hingga telapak tangannya kasar.
Abdurrahman bin Auf membangun kembali usahanya dari nol setelah hijrah.
Mereka bukan hanya ahli ibadah. Mereka adalah manusia-manusia yang tubuhnya terus bergerak.
Bayangkan kita berjalan bersama mereka.
Matahari gurun mulai meninggi. Pasir terasa panas di telapak kaki. Perjalanan masih jauh. Bekal air harus dihemat. Di depan, ada rombongan dagang yang harus dikejar. Di belakang, keluarga menunggu nafkah yang halal. Tidak ada kendaraan bermesin. Tidak ada lift. Tidak ada eskalator. Yang membawa mereka menuju tujuan hanyalah kaki yang kuat, punggung yang kokoh, dan tubuh yang terus terlatih.
Lalu datang panggilan jihad.
Mereka mengenakan baju besi yang beratnya puluhan kilogram. Pedang tergantung di pinggang. Perisai berada di tangan. Mereka berjalan berhari-hari melintasi padang pasir sebelum bertemu musuh. Bahkan ketika lapar melanda, mereka tetap berdiri di barisan paling depan demi mempertahankan agama Allah.
Tubuh mereka lelah.
Namun tubuh itulah yang mengantarkan dakwah sampai kepada kita hari ini.
Sekarang bandingkan dengan kehidupan kita.
Kita ingin berdakwah lebih luas.
Kita ingin mengajar lebih banyak.
Kita ingin menghadiri lebih banyak majelis.
Kita ingin membina lebih banyak manusia.
Namun sering kali kita lupa merawat kendaraan yang Allah berikan.
Kita bangga tidur hanya tiga atau empat jam.
Kita menganggap begadang sebagai simbol perjuangan.
Kita makan apa saja tanpa memikirkan manfaatnya.
Kita duduk berjam-jam tanpa bergerak.
Kita jarang berolahraga.
Lalu heran mengapa tubuh cepat lelah, pikiran mudah lesu, semangat menurun, dan usia produktif terasa semakin pendek.
Padahal Islam tidak pernah mengajarkan mengabaikan tubuh.
Tubuh adalah amanah.
Ia bukan milik kita sepenuhnya.
Ia adalah titipan Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Bagaimana mungkin seorang dai ingin mengajak manusia menuju surga, tetapi tubuhnya sendiri tidak sanggup menempuh perjalanan menuju masjid?
Bagaimana mungkin seorang kader dakwah ingin membina umat selama puluhan tahun, tetapi gaya hidupnya justru mempercepat datangnya penyakit?
Bayangkan jika Rasulullah SAW tidak menjaga kekuatan fisiknya.
Mungkin beliau tidak mampu menempuh hijrah yang begitu berat.
Mungkin beliau tidak mampu memimpin pasukan di Badar, Uhud, Khandaq, Hunain, dan Tabuk.
Mungkin beliau tidak mampu berjalan dari rumah ke rumah untuk memenuhi undangan, menghibur orang-orang miskin, mengangkat cucunya, atau mengunjungi para sahabat yang sakit.
Tentu Allah mampu memberikan mukjizat kapan saja.
Namun Allah mengajarkan kepada kita bahwa sunatullah tetap berlaku. Amanah yang besar membutuhkan fisik yang kuat.
Karena itu, tidur yang cukup bukanlah kemewahan.
Tidur adalah cara mengisi ulang tenaga agar esok kita mampu kembali berdakwah dengan wajah yang segar, pikiran yang tajam, dan hati yang lapang.
Makan yang baik bukan sekadar memanjakan lidah.
Makanan adalah bahan bakar bagi tubuh yang akan digunakan untuk sujud, berjalan, bekerja, berpikir, dan melayani umat.
Olahraga bukan sekadar mengejar bentuk tubuh.
Olahraga adalah ikhtiar menjaga kendaraan dakwah agar bannya tetap kuat, mesinnya tetap prima, dan mampu menempuh perjalanan panjang hingga akhir hayat.
Seorang kader dakwah tidak sedang mempersiapkan diri untuk bekerja satu atau dua tahun.
Ia sedang mempersiapkan diri untuk berjuang selama puluhan tahun.
Masih banyak anak yang harus diajarkan Al-Qur’an.
Masih banyak keluarga yang harus dibimbing.
Masih banyak pemuda yang harus dirangkul.
Masih banyak orang yang menunggu uluran tangan kita.
Semua itu membutuhkan tubuh yang sehat.
Jangan menunggu sakit untuk mulai berjalan kaki.
Jangan menunggu obesitas untuk mulai menjaga makan.
Jangan menunggu diabetes untuk mulai mengurangi gula.
Jangan menunggu serangan jantung untuk mulai berolahraga.
Rawatlah tubuh ketika ia masih kuat.
Karena kendaraan yang dirawat akan membawa kita lebih jauh daripada kendaraan yang dipaksa terus berjalan tanpa pernah diperhatikan.
Jika hari ini kita meluangkan waktu untuk tidur tepat waktu, makan makanan yang baik, melatih kekuatan otot, berjalan kaki, berlari, berenang, atau olahraga lainnya dengan niat agar semakin kuat beribadah dan berdakwah, maka jangan pernah merasa bersalah.
Boleh jadi, itu bukan sekadar aktivitas kesehatan.
Itu adalah bagian dari ibadah.
Karena setiap langkah yang membuat kita lebih siap menyampaikan risalah Allah adalah langkah yang bernilai di sisi-Nya.
Rawatlah kendaraan perjuanganmu. Sebab musuh terbesar perjuangan ini sering kali bukan kurangnya semangat, tetapi tubuh yang sudah menyerah sebelum cita-cita dakwah selesai diperjuangkan.
--
Dari seseorang yang mulai sadar untuk kembali menjaga kesehatan, mencintai olahraga, dan merawat tubuh sebagai kendaraan perjuangan di jalan dakwah.

0 Komentar