Kami tiba di Masjid Quba saat pagi masih muda. Matahari baru naik, cahayanya lembut menyentuh dinding-dinding putih masjid. Udara terasa dingin dan segar, sekitar 15 hingga 17 derajat, menusuk lembut ke kulit namun menenangkan. Nafas saya tampak tipis di udara, dan pagi ini Kota Madinah terasa begitu teduh dan bersahabat.
Bus berhenti perlahan, kami turun satu per satu, langkah kami terasa ringan. Di hadapan kami berdiri Masjid Quba, sederhana namun penuh wibawa. Ustadz Hasan, pemandu kami mulai bercerita, suaranya sedikit lantang memecah keramaian pagi.
“Di sinilah,” katanya, “Rasulullah SAW pertama kali singgah setelah hijrah dari Makkah.” Beliau tinggal beberapa hari di perkampungan Quba, lalu bersama para sahabat meletakkan batu demi batu untuk membangun masjid pertama dalam sejarah Islam. Tidak megah, tidak berlapis emas, hanya tanah, batu, dan hati yang penuh iman.
Saya memandang halaman masjid yang ramai dikunjungi jamaah dari berbagai negara yang sedang atau akan melaksanakan umroh. Angin pagi berhembus pelan, membawa rasa damai. Terbayang Rasulullah SAW berdiri di tempat ini, menguatkan para sahabat yang lelah, menanamkan harapan baru setelah hijrah yang panjang dan penuh risiko.
Allah SWT memuji Masjid Quba dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah ayat 108—masjid yang dibangun atas dasar takwa sejak hari pertama. Ayat itu selalu saya ingat ketika menyimak para guru menceritakan Masjid Quba. Di hadapan saya bukan hanya bangunan, tapi saksi lahirnya peradaban.
Kami masuk ke dalam. Suasana sangat ramai tapi hening dalam dzikir dan sholat. Tampak sejuk dan bersih. Saya teringat hadits Rasulullah SAW tentang pahala shalat di Masjid Quba yang setara dengan umrah bagi siapa pun yang bersuci lalu datang ke sini. Dalam dinginnya pagi, saya bersujud lebih lama dari biasanya, memohon agar iman ini juga dibangun di atas takwa, seperti masjid ini.
Ketika kami kembali ke bus, matahari mulai terik tapi udara Kota Madinah sangat sejuk. Saya menoleh sekali lagi ke arah Masjid Quba. Ia semakin jauh di mata, tapi semakin dekat di hati. Dari pagi yang dingin, saya membawa pulang kehangatan sejarah yang tak akan pernah pudar.
Madinah, 5 Februari 2026

0 Komentar