Air mata saya tumpah kembali untuk keempat kalinya. Di Masjidil Haram, di Masjid Jironah, di Masjid Nabawi dan Raudhah, lalu kini, di sebuah lembah sunyi yang dipeluk Gunung Uhud. Di sinilah jasad-jasad mulia itu berbaring. Di pemakaman Syuhada Uhud.
Angin Madinah berhembus pelan, membawa sejuk yang menenangkan, tapi hati saya justru bergetar. Saya berdiri menatap tanah yang sederhana, tanpa bangunan megah, tanpa nisan tinggi. Namun justru di sinilah kemuliaan itu bersemayam. Di tempat inilah, tujuh puluh sahabat Rasulullah gugur pada tahun ketiga Hijriyah, saat Islam masih rapuh, saat kaum Muslimin masih belajar bertahan di kota yang baru mereka cintai: Madinah.
Saya membayangkan suasana saat itu, pedang beradu, debu beterbangan, takbir bercampur rintih luka. Mereka bukan sekadar pasukan. Mereka adalah ayah, anak, saudara, sahabat. Mereka keluar bukan untuk dunia, bukan untuk nama, bukan untuk dikenang manusia. Mereka keluar karena iman.
Di antara mereka, ada Hamzah bin Abdul Muthalib. Paman Rasulullah. Singa Allah. Sosok yang berdiri tegak di awal risalah, saat Islam masih ditertawakan di Makkah. Tubuhnya mungkin terbujur di Uhud, tapi namanya hidup di langit.
Ada pula Mush’ab bin Umair. Pemuda tampan, anak kaya raya di Makkah, yang meninggalkan segala kemewahan demi satu kalimat: Laa ilaaha illallah. Dialah duta pertama Islam ke Madinah. Lewat dakwahnya, hampir tak ada satu rumah pun di kota ini kecuali telah mengenal Islam. Namun saat ia syahid, dunia yang pernah ia tinggalkan tak lagi tersisa padanya. Kain kafannya tak cukup. Jika kepalanya ditutup, kakinya terbuka. Jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka. Begitu ringan dunia di hadapan orang yang hatinya telah penuh dengan akhirat.
Dan ada Hanzalah. Sahabat yang baru saja melewati malam pertamanya sebagai suami, lalu bergegas memenuhi panggilan jihad. Ia syahid dalam keadaan junub, dan Allah memuliakannya: malaikat turun memandikan jasadnya. Seakan langit sendiri ingin menyambut kedatangannya.
Masih banyak nama lain yang tak sanggup saya sebut satu per satu. Namun semuanya sama—mereka pergi lebih dulu. Mereka gugur sebelum melihat Islam jaya. Tidak sempat menyaksikan Fathu Makkah. Tidak sempat melihat panji Islam membentang luas di masa Umar bin Khattab. Namun, justru karena merekalah, kejayaan itu lahir.
Di lembah Uhud ini, saya belajar satu hal: mereka tidak hidup untuk hasil, tetapi untuk kebenaran. Mereka tidak menunggu kemenangan, karena iman bagi mereka sudah cukup sebagai tujuan.
Dan di antara batu dan pasir Uhud, saya berdoa lirih,
“Ya Allah, jika Engkau tidak takdirkan aku mati sebagai syahid seperti mereka, maka hidupkanlah aku dengan iman seperti mereka.”
Madinah, 5 Februari 2026

0 Komentar