Sebelum berangkat umroh, saya termasuk orang yang sangat “siap”. Saya menuliskan daftar doa dengan rapi. Panjang. Detail. Tentang rezeki yang ingin dilapangkan, usaha yang ingin dibesarkan, target dunia yang ingin dicapai.
Dalam bayangan saya, saat berdiri di depan Ka’bah nanti, semua daftar itu akan saya bacakan satu per satu. Tidak boleh ada yang terlewat.
Namun ternyata, Allah punya cara lain untuk mengajarkan makna rezeki.
Ketika pertama kali mata ini melihat Ka’bah, dada terasa sesak oleh haru. Saat kaki melangkah semakin dekat, hati justru semakin kecil. Dan ketika akhirnya berdiri tepat di hadapannya, semua daftar doa itu seperti menguap.
Luruh.
Tidak ada lagi ambisi dunia yang terasa mendesak. Tidak ada lagi target-target besar yang ingin disebutkan. Yang tersisa hanya satu keinginan sederhana: bisa sholat dengan khusyuk. Bisa bersujud lama. Bisa menangis sepuasnya di depan-Nya.
Di situlah saya sadar, ternyata bisa sholat di depan Ka’bah adalah rezeki paling besar itu sendiri.
Bukan soal berapa yang kita miliki. Bukan tentang capaian yang bisa dipamerkan. Tapi tentang di mana Allah menempatkan kita. Dan jika Allah menempatkan kita tepat di depan rumah-Nya, dalam keadaan bersujud dan menangis, itu adalah kemuliaan yang tak ternilai.
Tidak semua orang diundang. Tidak semua orang diberi kesempatan sedekat itu.
Umroh bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan hati. Capaian di atas segala capaian duniawi. Bahkan mungkin, itulah capaian tertinggi — saat air mata jatuh tanpa dibuat-buat dan kita merengek manja kepada Allah:
“Ya Allah, izinkan aku kembali. Undang aku lagi… dan lagi.”
Sepulang dari sana, saya belajar satu hal: jangan hanya mengejar dunia. Kejarlah momen-momen dekat dengan Allah. Karena di situlah letak rezeki terbesar. Rezeki yang tidak selalu berbentuk angka, tapi berbentuk ketenangan, kedekatan, dan rasa cukup.
Dan siapa pun yang pernah bersujud di depan Ka’bah akan tahu — ada kenikmatan yang tak bisa digantikan oleh apa pun di dunia ini.

0 Komentar