Dikelilingi Orang-orang Hebat




"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)

Ada masa dalam hidup saya ketika saya berpikir bahwa keberhasilan bisnis ditentukan oleh seberapa banyak relasi yang dimiliki. Saya berusaha mengenal banyak orang, menghadiri berbagai pertemuan, mengikuti seminar, dan membangun jaringan seluas mungkin. Saya mengira semakin banyak kartu nama yang saya kumpulkan, semakin dekat pula saya kepada kesuksesan.

Namun, seiring perjalanan waktu, saya menemukan pelajaran yang jauh lebih berharga. Bukan saya yang menemukan orang-orang hebat. Justru Allah yang mempertemukan saya dengan mereka ketika saya terus berusaha memperbaiki diri. Hukum ketertarikan itu nyata. Kita akan dipertemukan dan dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki karakter, nilai, dan frekuensi yang serupa dengan diri kita. Birds of a feather flock together.

Hari ini saya semakin memahami bahwa dalam bisnis ada sebuah hukum kehidupan yang sangat nyata. Kita tidak sekadar menarik apa yang kita inginkan, tetapi kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang sejalan dengan kualitas diri yang sedang kita bangun. Semakin kita bertumbuh dalam ilmu, karakter, dan keimanan, semakin Allah menghadirkan orang-orang yang juga membawa pertumbuhan ke dalam hidup kita.

Saya tidak mengatakan bahwa saya sudah menjadi orang hebat. Justru saya masih terus belajar. Tetapi saya menyadari bahwa setiap kali saya berusaha memperbaiki diri, Allah selalu mengirimkan seseorang yang menjadi jawaban atas kebutuhan saya pada fase kehidupan tersebut. Mereka datang bukan hanya membawa peluang bisnis, tetapi membawa cara berpikir yang lebih matang, keberanian yang lebih besar, dan keyakinan yang lebih kuat kepada diri saya sendiri.

Saya masih mengingat bagaimana Allah mempertemukan kembali saya dengan Pak Budi Santoso, guru dan mentor saya setelah sekian tahun tidak bertemu. Beliau bukan sekadar seorang sahabat atau senior. Kehadiran beliau menjadi salah satu penguat mental saya dalam berbisnis. Di saat saya mulai meragukan kemampuan diri sendiri, beliau justru melihat sesuatu yang belum mampu saya lihat. Beliau tidak hanya memberikan nasihat, tetapi menanamkan keberanian untuk terus melangkah ketika jalan di depan masih belum jelas. Ada orang-orang yang memberi semangat dengan kata-kata, tetapi ada pula orang-orang yang kehadirannya sendiri sudah menjadi energi. Bagi saya, Pak Budi adalah salah satunya.

Allah juga menghadirkan Akh Rizky, Akh Taufik, Akh Ihsan, dan Akh Rangga. Mereka adalah sahabat-sahabat yang memilih percaya kepada saya bahkan ketika banyak orang lain masih ragu. Ada masa ketika keraguan justru datang dari orang-orang yang paling dekat. Tidak semua keluarga atau kerabat memahami mimpi yang sedang kita bangun. Tidak semua orang mampu melihat masa depan ketika yang tampak hari ini hanyalah perjuangan. Namun di tengah keraguan itu, Allah menghadirkan orang-orang yang memilih percaya. Kepercayaan mereka menjadi salah satu modal terbesar saya untuk terus melangkah. Kadang yang dibutuhkan seorang pebisnis bukan tambahan modal, tetapi tambahan keyakinan bahwa perjuangannya layak diteruskan.

Belakangan ini, Allah kembali mempertemukan saya dengan Pak Yusup dan Pak Mulyono. Kehadiran mereka membawa sesuatu yang sangat berharga, yaitu cara berpikir yang terus bertumbuh atau growth mindset. Saya belajar bahwa bisnis bukan sekadar soal menjual produk atau mengejar omzet. Bisnis adalah tentang membangun kapasitas manusia. Saya belajar melihat tantangan sebagai kesempatan belajar, kegagalan sebagai bahan evaluasi, dan keberhasilan sebagai amanah yang harus dikelola dengan lebih baik. Cara berpikir seperti inilah yang perlahan mengubah cara saya memandang masa depan PT Kawan Listrik Indonesia.

Lebih dari itu, saya juga melihat bagaimana Hukum Ketertarikan bekerja melalui orang-orang yang memilih bergabung bersama Kawan Listrik Indonesia. Saya merasa sangat bersyukur ketika Koh Indra dan Aldi, yang memiliki pengalaman di perusahaan pabrikan kabel besar, justru memilih Kawan Listrik Indonesia sebagai tempat mereka bertumbuh bersama. Bagi saya, ini bukan sekadar perpindahan tempat bekerja. Ini adalah amanah. Mereka tidak hanya membawa pengalaman, tetapi juga kepercayaan. Mereka percaya bahwa Kawan Listrik Indonesia memiliki masa depan yang layak diperjuangkan bersama.

Setiap kali saya melihat mereka bekerja, saya selalu bertanya kepada diri sendiri, "Apakah saya sudah menjadi pemimpin yang layak menerima kepercayaan sebesar ini?" Pertanyaan itu membuat saya sadar bahwa tugas seorang pemimpin bukan menikmati loyalitas orang lain, tetapi terus meningkatkan kualitas dirinya agar tidak mengecewakan kepercayaan yang telah diberikan.

Saya juga bersyukur atas seluruh teman-teman seperjuangan di Kawan Listrik Indonesia. Mereka mungkin datang dengan latar belakang yang berbeda-beda, kemampuan yang berbeda-beda, bahkan pengalaman yang berbeda-beda. Namun mereka memiliki satu kesamaan, yaitu keinginan untuk bertumbuh. Saya percaya, perusahaan tidak dibangun oleh satu orang hebat. Perusahaan dibangun oleh banyak orang biasa yang memiliki komitmen untuk terus menjadi lebih baik setiap hari. Dan saya merasa terhormat dapat bertumbuh bersama mereka.

Di balik semua itu, ada orang-orang yang mungkin tidak pernah hadir dalam rapat bisnis, tidak ikut menyusun strategi perusahaan, tidak berada di ruang negosiasi, tetapi doa-doanya menjadi fondasi dari setiap langkah saya. Mereka adalah istri dan anak-anak saya. 

Saya menyadari bahwa setiap kali saya keluar rumah untuk bekerja, mereka tidak hanya melepaskan saya dengan senyuman, tetapi juga dengan doa. Mereka menerima waktu yang berkurang, mereka memahami lelah yang saya bawa pulang, mereka mengerti bahwa membangun perusahaan adalah perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian. Ketika saya lelah, mereka menjadi tempat saya pulang. Ketika saya gagal, mereka tidak menghakimi. Ketika saya berhasil, mereka tidak pernah menuntut apa pun selain agar saya tetap menjadi suami dan ayah yang baik. 

Namun ada satu kekuatan lain yang sering kali tidak terlihat oleh mata, tetapi saya yakini menjadi sebab Allah terus menjaga langkah-langkah saya. Itulah doa kedua orang tua saya. 

Saya percaya, ada keberkahan yang tidak bisa dihitung dengan laporan keuangan, tidak bisa diukur dengan omzet, dan tidak bisa dijelaskan oleh rumus manajemen. Keberkahan itu hadir melalui doa seorang ayah dan seorang ibu. 

Setiap kali saya selesai menunaikan shalat, saya selalu menyempatkan diri untuk mendoakan kedua orang tua saya. Saya memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa mereka, memanjangkan umur mereka dalam kebaikan jika masih bersama kami, memberikan kesehatan, keberkahan, dan membalas seluruh pengorbanan mereka dengan balasan terbaik di dunia maupun di akhirat. Jika kelak Allah melapangkan rezeki dan membesarkan usaha yang saya bangun, saya ingin semua itu menjadi salah satu amal jariyah yang mengalir kepada kedua orang tua saya. 

Sebaliknya, saya juga meyakini bahwa doa-doa mereka telah menjadi benteng yang melindungi saya dalam perjalanan ini. Mungkin ada banyak pintu yang terbuka bukan semata karena kemampuan saya. Mungkin ada banyak bahaya yang dijauhkan bukan karena kecerdasan saya. Mungkin ada banyak orang baik yang Allah kirimkan ke dalam hidup saya bukan karena saya pantas, tetapi karena ada doa seorang ibu di setiap sujudnya dan harapan seorang ayah dalam setiap ikhtiarnya. 

Semakin saya menjalani dunia bisnis, semakin saya memahami bahwa kesuksesan tidak pernah berdiri di atas kemampuan seseorang saja. Ia berdiri di atas begitu banyak tangan yang Allah kirimkan untuk menguatkan kita. Ada guru yang mengajarkan ilmu. Ada mentor yang mengubah cara berpikir. Ada sahabat yang menguatkan ketika mental mulai runtuh. Ada tim yang bekerja dengan penuh dedikasi. Ada istri dan anak-anak yang menjadi sumber ketenangan. Dan ada orang tua yang tanpa lelah mendoakan anaknya, bahkan ketika sang anak tidak mengetahui setiap doa yang mereka panjatkan. 

Semua pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa Hukum Ketertarikan bukanlah tentang memanifestasikan keinginan semata. Hukum Ketertarikan adalah tentang membangun kelayakan diri di hadapan Allah. Ketika kita memperbaiki akhlak, memperluas ilmu, menjaga amanah, menghormati orang tua, memuliakan keluarga, dan terus bertumbuh sebagai manusia, Allah akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang menjadi jalan datangnya pertolongan-Nya. 

Kini saya memahami bahwa kesuksesan bukanlah tentang seberapa banyak orang yang saya kenal. Kesuksesan adalah ketika Allah menggerakkan hati orang-orang baik untuk datang, percaya, dan berjuang bersama. Ada Pak Budi Santoso yang menguatkan mental saya. Ada Akh Rizky, Akh Taufik, Akh Ihsan, dan Akh Rangga yang percaya kepada saya ketika sebagian orang bahkan kerabat sendiri masih meragukan. Ada Pak Yusup dan Pak Mulyono yang membuka cakrawala berpikir saya dengan growth mindset. Ada Koh Indra, Aldi, dan seluruh keluarga besar PT Kawan Listrik Indonesia yang memilih bertumbuh bersama. Ada istri dan anak-anak yang menjadi sumber ketenangan. Dan ada doa kedua orang tua yang saya yakini menjadi salah satu sebab Allah menjaga setiap langkah perjuangan ini. 

Karena pada akhirnya, bisnis yang besar tidak dibangun oleh seorang manusia yang hebat. Bisnis yang besar dibangun oleh seorang hamba yang terus memperbaiki dirinya, menghormati kedua orang tuanya, memuliakan keluarganya, menjaga amanah orang-orang yang percaya kepadanya, lalu menyerahkan seluruh hasilnya kepada Allah SWT. Saya percaya, selama saya terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, Allah akan terus mengirimkan orang-orang terbaik untuk bersama-sama membangun PT Kawan Listrik Indonesia, bukan hanya menjadi perusahaan yang besar, tetapi menjadi perusahaan yang membawa keberkahan dan manfaat bagi sebanyak mungkin manusia.

Posting Komentar

0 Komentar