Pernahkah kita membayangkan sosok muslim yang benar-benar utuh? Bukan hanya rajin ibadah, tapi juga kuat secara mental, cerdas dalam berpikir, sehat jasmani, dan amanah dalam urusan dunia. Sosok seperti inilah yang oleh Ustadz Hasan Al Banna disebut sebagai rijal yang integral, manusia seimbang antara tarikan langit dan bumi.
Dalam memoarnya, Ustadz Hasan Al Banna menggambarkan dengan indah satu potret tentang akh muslim yang mungkin sering luput dari bayangan kita.
Suatu waktu, orang-orang melihatnya berdiri di mihrab. Ia larut dalam doa, khusyuk, menangis, dan merendahkan diri sepenuh hati di hadapan Allah. Tak ada yang ia cari selain ridha-Nya. Di saat itu, ia tampak begitu lembut, rapuh, dan sangat bergantung pada Rabb-nya.
Namun di waktu yang lain, orang yang sama terlihat berdiri di hadapan manusia. Ia adalah seorang guru. Ucapannya tertata, nasihatnya dalam, dan kata-katanya mampu menggugah dada siapa pun yang mendengarnya. Ia tidak hanya berbicara, tapi menyentuh hati. Tidak menggurui, tapi menuntun.
Belum selesai sampai di situ. Di kesempatan lain, ia berada di lapangan. Tubuhnya sigap, geraknya cekatan. Ia terampil berolahraga, kuat saat melempar, gesit menghadapi lawan, atau tangguh saat berenang. Ia menjaga fisiknya karena sadar, tubuh yang sehat adalah amanah dan alat perjuangan.
Dan ketika hari berganti peran, ia telah berada di tempat kerja atau usaha. Ia berbisnis, bekerja, dan berinteraksi dengan dunia profesional. Tapi ia melakukannya dengan amanah, jujur, ikhlas, dan penuh tanggung jawab. Tidak menipu, tidak curang, dan tidak menghalalkan segala cara. Dunia ada di tangannya, tapi tidak di hatinya.
Inilah gambaran muslim yang komplit. Ia tidak terjebak pada satu sisi saja. Ia bukan muslim yang hanya kuat di masjid tapi lemah di masyarakat. Bukan pula yang sibuk dunia tapi kosong ruhani. Ia menyatukan ibadah, ilmu, fisik, dan amal dalam satu tarikan nafas kehidupan.
Islam memang tidak pernah mengajarkan kita menjadi manusia setengah-setengah. Rasulullah SAW adalah teladan terbaik: ahli ibadah, pemimpin umat, pendidik, panglima perang, kepala keluarga, sekaligus pedagang yang jujur. Maka menjadi muslim yang utuh bukanlah pilihan tambahan, tapi bagian dari identitas keimanan.
Sosok yang dikisahkan Ustadz Hasan Al Banna seolah mengingatkan kita dengan lembut namun tegas:
Jangan puas hanya dikenal sebagai orang shalih di satu sudut kehidupan. Jadilah muslim yang hadir dan memberi nilai di setiap ruang.
Karena dakwah tidak hanya terdengar dari mimbar, tapi juga terlihat dari akhlak, kinerja, ketangguhan, dan integritas hidup kita sehari-hari.
Dan mungkin, di sanalah makna sejati dari rijal yang integral.

0 Komentar